PERANG, DIMANAPUN HANYA MENGHASILKAN KEHANCURAN. KEKALAHAN UNTUK SEMUA KEMENANGAN HANYA BUAT BISNIS SENJATA

6 Oct 2013

Amerika Bangkrut: Mereka Perlu Belajar Sistem Kesehatan dari Indonesia?


amerika bangkrut

Terhitung 1 Oktober 2013, Pemerintah Amerika Serikat (AS) berhenti beroperasi. Lumpuhnya kegiatan pemerintahan merupakan hasil dari kisruh anggaran.

Issu tentang kesehatan memang menjadi issu paling populer untuk dijual didalam dunia perpolitikan guna menarik suara dan dukungan rakyat. Selain di Indonesia dimana para calon atau pejabat politik baik yang sudah duduk ataupun belum duduk di pemerintahan selalu menjajikan pelayanan kesehatan gratis dan murah, ternyata hal itu juga terjadi di Amerika.

Berita cukup menghebohkan dunia baru saja dilansir. Kabarnya negara terkuat di dunia, pengklaim penjaga perdamaian dunia dan bangsa besar terhormat negara adidaya Amerika Serikat ternyata bisa terancam bangkrut, karena pemerintah sudah tidak lagi mampu menjalani fungsi mereka di beberapa divisi akibat jebolnya anggaran negara, jika hal ini dibiarkan dikuatirkan amerika tinggal menunggu waktu soal bubarnya negeri adidaya tersebut.

Dewan perwakilan rakyat amerika dan senat belum lama ini masih berdebat (belum sepakat) soal anggaran Kesehatan yang diajukan oleh Presiden Barrack Obama. Kedua majelis masih berbeda pendapat mengenai reformasi kesehatan yang dikenal dengan Affordable Healthcare Act. Pelaksanaan reformasi kesehatan seharusnya mulai berlaku hari Selasa ini sebagai imbalan atas persetujuan anggaran. Karena tidak ada kesepakatan antara dua majelis di Kongres maka anggaran gagal disepakati sebelum tahun fiskal berakhir tanggal 30 September.

Akibat dari anggaran kesehatan yang masih belum disetujui itu, pemerintah melakukan penutupan sebagian kantor pemerintah non essensial, lebih dari 800.000 pegawai federal terancam akan menghadapi cuti hingga kemungkinan PHK jika kebuntuan mengenai persoalan anggaran ini tidak segera diselesaikan.

Penolakan anggaran kesehatan bisa dibilang sepertinya mencederai hati nurani dan jiwa sosial para anggota dewan di sana. Akan tetapi harap maklum, jika amerika saat ini memang anggaran untuk departement pertahanan dan keamanan dialokasikan paling besar, oleh sebab itu tentunya anggaran untuk departmenet lain menjadi lebih kecil termasuk anggaran bagi kesehatan warga amerika serikat sendiri.

Hal itu kemungkinan yang mendasari penolakan anggaran bagi penjaminan asuransi kesehatan bagi seluruh warga amerika seperti yang sudah dijanjikan Obama ketika kampanye tahun lalu. Minimnya keuangan negara membuat negara kesulitan untuk mengucurkan dana bagi jaminan kesehatan masyarakat, disisi lain obama sudah terlanjur memberikan janji-janji untuk melakukan reformasi di bidang pelayanan kesehatan.

Lain Amerika, lain pula Indonesia. Jika di amerika negaranya terancam bangkrut dan terpaksa harus menunda jaminan pelayanan kesehatan bagi warga negaranya. Hal yang sama sebenarnya juga terjadi pada pelayanan kesehatan di Indonesia, dimana saat ini para tenaga kesehatan sedang “dipaksa” untuk melayani kesehatan semua warganya secara murah dan gratis akan tetapi tidak didukung oleh anggaran yang layak dan cukup bagi pelaksanaanya.

Kami bilang kebijakan ini  ”dipaksa” karena biaya kesehatan mulai dari obat-obatan, alat-alat kesehatan di negeri ini begitu mahal karena pajak dan bea impor begitu besar , tapi kami dipaksa memberikan pelayanan gratis bagi seluruh warga sebagai upaya memenuhi janji-janji para politikus disaat “pencitraan” selama kampanye. Terkesan memaksakan ketika niat baik pemerintah untuk menyejahterakan bidang kesehatan warganya tidak didukung dana yang cukup sehingga pelayanan kesehatan dilapangan tkesan hanya ” seadanya”.

Politik pencitraan yang dilakukan penguasa hanya menguntungkan nama mereka saja. Sementara yang terjadi sebenarnya mereka sedang meng- “adu domba” kami dokter & tenaga kesehatan dengan masyarakat sebagai pasien yang setiap hari bersinggungan langsung dgn kami. Penguasa tidak pernah tahu bagaimana kami bekerja dan mereka penguasa juga tak pernah tahu secara persis keluh kesah para pasien mengenai pelayanan kesehatan.

Dalam pelakasanaan pelayanan kesehatan para penguasa tahunya dari politik pencitraan yg mereka buat, dimata mereka yg penting progam pengobatan gratis jalan, rakyat senang, bodo amat kalau ternyata banyak masalah yang mendera karena pada akhirnya yang berbenturan langsung dilapangan juga nantinya bukan para politikus /pembuat kebijakan, tapi yang berhadapan langsung adalah ”Dokter VS Pasien”.
Akhirnya masyarakat memandang bahwa buruknya layanan kesehatan ini ya karena dokternya, karena perawat, bidan atau rumah sakitnya, tapi pasien/masyarakat tidak pernah mencari sumber kekacauannya sebenarnya itu ada dimana dan karena apa?

Amerika bangkrut akibat minimnya dana anggaran negara yang tersedia, hingga Obama gagal mewujudkan anggaran jaminan kesehatan gratis bagi semua warga negaranya? Jika amerika sebagai negara adidaya saja bisa bangkrut, apa perlu mereka belajar dari sistem pelayanan kesehatan Indonesia? atau justru sebaliknya, ketika nanti di thn 2014 sistem pelayanan kesehatan seluruh rakyat Indonesia telah tercover asuransi (SJSN/BPJS) namun anggaran negara yang digelontorkan masih minimalis (hanya 2% dari total APBN).

Lalu dapatkah pelayanan kesehatan di Indonesia yang baik dan bermutu bisa diwujudkan? atau mungkinkah jika tetap dipaksa untuk melakukan pelayananan yang baik pd akhirnya akan byk rumah sakit-rumah sakit milik pemerintah yang akan menyusul bangkrut karena ketiadaan anggaran untuk penyediaan obat, alat dan gaji karyawan mereka???


sumber: www.kompasiana.com
             http://lh4.ggpht.com

No comments: